Monday, 30 August 2010

Penyakit Pada Kelopak Mata dan Apparatus lakrimalis

Hordeolum
Abses staphylococcal pada kelopak mata, ditandai dengan kemerahan yg terlokalisir, bengkak, nyeri pada kelopak atas atau bawah.
Hordeolum internal merupakan abses pada kelenjar Meibomian, sedangkan yang eksternal lebih kecil dan terletak di ujung kelopak mata.

Kompres hangat membantu.
Indikasi insisi - jika tidak sembuh dalam waktu 48 jam.
Antibiotik = bacitracin atau eritromisin topikal setiap 3 jam (pada fase akut)

Chalazion
inflamasi granulomatosa pada kelenjar meibomian yg dapat diikuti dengan hordeolum internal. Ciri penyakit ini adalah bengkak yg tidak nyeri dengan kemerahan dan bengkak pada konjungtiva.
Jika Chalazion cukup besar dapat menekan kornea hingga terjadi distorsi penglihatan
Rx/ insisi dan kuret

Blefaritis
Inflamasi bilateral kronis pada kelopak mata.

Blefaritis anterior berhubungan dengan infeksi staphylococci, seborrheic dan dapat menjadi ulkus.
Blefaritis posterior berhubungan dengan disfungsi sekunder kelenjar meibomian . Dapat terjadi infeksi bakteri, terutama staphylococci. Jika merupakan infeksi primer, behub dengan acne rosacea.

Gejala : iritasi, terbakar, gatal.
Blefaritis anterior dan posterior dapat merupakan komplikasi dari hodeolum, chalazion, trichiasis, konjungtivitis rekuren, infiltrasi kornea.

Rx/ untuk anterior blefaritis : pembersihan scalp, alis mata, dan kelopak merupakan terapi yang efektif. Dapat pula diberikan antibiotik seperti bacitracin atau eritromisin

Rx/ untuk posterior blefaritis : antibiotik sistemik dosis rendah ( inflamasi konjungtiva dan kornea), steroid spt prednisolon, 2x/ hari. topical antibiotik spt ciprofloxacin dapat membantu.


Entropion & Ectropion
Entropion = lipatan eyelid bagian bawah ke dalam. Kebanyakan karena degenerasi fascia, atau scarring konjungtiva dan tarsus.
Rx/ Toksin botulinum
Indikasi bedah jika : kornea terkena.

Ectropion = sering terjadi pada umur yang lebih tua.
Indikasi bedah : kelebihan air mata, keratitis, masalah kosmetik.

Dacryocystitis
Infeksi kantung lacrimalis karena obstruksi sistem nasolakrimalis.
Dapat akut atau kronik dan biasa unilateral

Pada penyakit akut, e/ stap. aureus, b-hemolitikus,
pada kronik, e/ s. epidermidis, anaerob strep, candida albican

Rx/ akut : antibiotik sistemik.
Kronik : antibiotik, dacryocystorhinostomy, balloon dilation.





Kegawatdaruratan dan rujukan oftalmologi

Kelainan okular yg membutuhkan rujukan adalah :
  • penglihatan hilang mendadak
  • perdarahan vitreous
  • ablasi retina
  • degeneratif makular bereksudat
  • oklusi arteri-vena retina sentral
  • neuropati optik anterior iskemik
  • GAC (giant cell arteritis)
  • Optic neuritis
  • uveitis anterior akut,
  • glaukoma akut
  • inflamasi mata
  • infeksi gonokokal
  • trauma okular
  • penglihatan turun perlahan

Pemeriksaan Okular

  1. Pemeriksaan visus
    Dengan Snellen Chart. Koreksi hingga 20/20 (feet) , atau 6/6 (metric)

  2. Pemeriksaan lapang pandang
    Dapat menggunakan Amsler chart












  3. Pemeriksaan pupil. Untuk melihat ukuran dan reaksi terhadap sinar dan akomodasi.
    Reaksi pupil yang buruk dapat terjadi karena palsi nervus III, keruskan iris karena glaukoma akut, obat midriasis, pada Horner's syndrome.


  4. Pergerakan otot ekstraokular. Untuk melihat apakah pergerakan kedua bola mata sama atau tidak. Kelainan yang mungkin terjadi adalah trophia, phoria, dan nistagmus.


  5. Proptosis (eksoftalmus). Merupakan pembesaran garis palpebra. Dilakukan dengan cara meminta pasien melihat kebawah dan kelopak mata bagian atas di lipat oleh pemeriksa.
    Penyebab eksoftalmus : cellulitis, tumor, pseudotumor orbita.


  6. Ptosis. Penyebab neurologis yang menyebabkan ptosis adalah sindrom Horner, dimana pupil mengalami konstriksi , palsi nervus III. Terdapat juga pada Myastenia Gravis.


  7. Pemeriksaan segmen anterior . Dengan flashlight dan loop. Untuk mendeteksi adanya keratitis, inflamasi intraokular, glaukoma akut, episkleritis dan skleritis, hipopion dan hifema.

  8. Pemeriksaan ofltalmoskop langsung.
    Idealnya menggunakan tropicamid 0,5-1% untuk dilatasi pupilnya. Untuk melihat adanya red reflect, derajad kekeruhan, kelainan pada optic disk, lesi makular, pembuluh darah retina.
    Dapat terlihat kelainan pada kornea, lensa, vitreus










Pengukuran Visus


Pengukuran Visus merupakan salah satu pemeriksaan oftalmologi.
Untuk mengukur visus seseorang digunakan Snellen eye chart.

1862, oftalmologis Belanda, dr. Hermann Snellen menemukan hubungan antara ukuran huruf tertentu dengan jarak tertentu.

Test dilakukan dengan cara, pasien membaca dari huruf paling atas hingga paling bawah.

Pada orang yang tidak dapat membaca, gunakan kartu yang ada huruf "E", lalu tanya apakah huruf E nya menghadap ke kanan, kiri, atas, atau bawah.

Ketika memeriksa visus, periksalah satu demi satu mata.
Jika visus pasien 20/200, artinya huruf terkecil yang dapat dilihat pada jarak 20 kaki dapat dilihat pada mata normal pada jarak 200 kaki.

Jika dalam jarak 20 m, pasien tidak dapat melihat huruf paling besar, gunakan cara CF (Count Finger) , HM (Hand Movement), LP (perception of light)

Sunday, 29 August 2010

Gejala-gejala pada Penyakit Mata

  1. Kemerahan.
    Gejala yang sering dihadapi pada penyakit mata.
    E/ hiperemia konjungtiva, episklera, pembuluh darah siliar, eritema kelopak mata.
    DD/ konjungtivitis, penyakit kornea, glaukoma akut, uveitis

  2. Rasa tidak enak pada mata
    a. Nyeri.
    E/trauma, infeksi, inflamasi, dan peningkatan TIO
    b. Sensasi benda asing.
    E/ benda asing pada konjungtiva atau kornea, gangguan epitel kornea, trichiasis
    c. Fotofobia
    E/ inflamasi kornea atau iris, albinism, aniridia, distrofi sel kerucut, afakia, demam.
    d. Gatal
    E/ alergi
    e. Rasa terbakar
    E/ kekeringan pada mata. defisiensi komponen air mata
    f. Mata berair
    E/ drainasi air mata yg inadekuat, obstruksi saluran keluar air mata, reflek pada ggn epitel kornea

  3. Sakit Kepala.
    Berhubungan dengan membaca atau menggunakan mata untuk melihat jarak dekat dalam waktu lama.
    E/ kelainan refraksi, presbiopia, ilmuniasi inadekuat, deviasi okular, inflamasi kornea dan iris.
    Sakit kepala kebanyakan disebabkan oleh giant cell arteritis, dan merupakan penyebab penting kehilangan penglihatan

  4. Sekret Konjungtiva
    Infeksi bakterial = purulen
    Infeksi viral atau keratitis = mukusnya tidak purulen (watery)
    Alergi = mata berair disertai gatal.

  5. Penurunan penglihatan
    E/ kelainan refraktif, degenerasi makular, retinopati diabetik perdarahan vitreus, ablasi retina, oklusi vena retina sentral, oklusi arteri retina sentral, kekeruhan kornea, penyakit nervus optik.

    a. Kehilangan penglihatan monokular = ggn pada retina atau saraf.
    b. Kehilangan penglihatan bilateral = ablasi retina, glaukoma kronik, oklusi arteri dan vena retina, iskemik anterior neuropati , neuritis optik.
    c. Kehilangan penglihatan bitemporal = lesi pada optik kiasma (biasa karena tumor pituitary)

  6. Kerusakan penglihatan dan kebutaan
    Dikatakan mata rusak jika koreksi terbaik visus = 20/80.
    Dikatakan buta jika visus 20/200 atau kurang.
    E/ glaukoma, retinopati diabetik, degenerasi makular, katarak, trakoma, leprosy, onkoserciasis, xerophtalmia

  7. Diplopia (penglihatan ganda)
    E/ kesalahan okular didapat. Bisa dari sentral (palsi nervus cranial) dan lesi intraorbital (peny. Grave's dan entrapment otot) .
    Pada monokular biasa terjadi karena kesalahan refraksi, atau kekeruhan lensa.

  8. "Spot before the eyes" (floaters) & "flashing lights" (fotopsia)
    Floaters = kekeruhan viterus, ablasi & perdarahan vitreus, uveitis posterior.
    Biasa floaters berhubungan dengan fotopsia = ablasi retina & kebocoran di retina.


Wednesday, 16 June 2010

How to Make an Essay Flow

  • Read over your essay and write the main objective of the essay at the top of the page on a sheet of paper.
  • Read each paragraph carefully and summarize the main topic of each in a simple word or phrase. List these topics on the sheet of paper.
  • Put the first sheet of paper aside and explain what you are trying to convey through your essay out loud or in your head without looking at the essay or the list of topics. As you explain your point naturally and in your own words, jot down each topic you cover as you are going through your explanation on a separate sheet of paper.

  • Compare the topic list from step 2 with the topic list from step 3, and change the order of your paragraphs to match the way that you would naturally explain your objective.

  • Read through your essay from the beginning, with the paragraphs rearranged in the most natural order, pausing at the beginning of each new paragraph.

  • Look at both the topic you have just finished discussing and the topic that is about to be discussed, and add a simple, clear transitional sentence at the beginning of each new paragraph to tie it into the previous paragraph. For example, say you are writing a paper about the success of "I Love Lucy," and have just ended a paragraph about how the advanced filming techniques used on the show have contributed to its ongoing success. If the next paragraph will discuss the popularity of the show at the time, then a reasonable transitional sentence might be: "While the success of the innovations that came out of "I Love Lucy" deserve a great deal of respect, the popularity of the show itself must not be overlooked."

  • After placing transitional sentences at the beginning of each paragraph, read the essay from the beginning. If there is any place where the essay does not sound like a well informed explanation of the objective to a friend, add transitional sentences in the weak spots. Your essay should now have a cohesive, natural flow.

  • Step 2

    Read each paragraph carefully and summarize the main topic of each in a simple word or phrase. List these topics on the sheet of paper.

  • Step 3

    Put the first sheet of paper aside and explain what you are trying to convey through your essay out loud or in your head without looking at the essay or the list of topics. As you explain your point naturally and in your own words, jot down each topic you cover as you are going through your explanation on a separate sheet of paper.

  • Step 4

    Compare the topic list from step 2 with the topic list from step 3, and change the order of your paragraphs to match the way that you would naturally explain your objective.

  • Step 5

    Read through your essay from the beginning, with the paragraphs rearranged in the most natural order, pausing at the beginning of each new paragraph.

  • Step 6

    Look at both the topic you have just finished discussing and the topic that is about to be discussed, and add a simple, clear transitional sentence at the beginning of each new paragraph to tie it into the previous paragraph. For example, say you are writing a paper about the success of "I Love Lucy," and have just ended a paragraph about how the advanced filming techniques used on the show have contributed to its ongoing success. If the next paragraph will discuss the popularity of the show at the time, then a reasonable transitional sentence might be: "While the success of the innovations that came out of "I Love Lucy" deserve a great deal of respect, the popularity of the show itself must not be overlooked."

  • Step 7

    After placing transitional sentences at the beginning of each paragraph, read the essay from the beginning. If there is any place where the essay does not sound like a well informed explanation of the objective to a friend, add transitional sentences in the weak spots. Your essay should now have a cohesive, natural flow.

  • Tuesday, 1 June 2010

    Penurunan Kesadaran

    Kesadaran merupakan ketanggapan pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dimana pada penurunan tingkat kesadaran, terdapat gangguan arousal maupun fungsi mental.

    Tingkat kesadaran yang utuh diatur oleh kedua hemisfere serebri dan ARAS (ascending reticulating activation system)


    Pendekatan klinis pada pasien dengan gangguan kesadaran :
    • Selalu lakukan ABCs (Airway, Breathing, Circulation)
    • Pencarian etiologi (dari anamnesa singkat dan tanda rangsang meningeal)
    • Lakukan pemberian glukosa, thiamin, dan naloxone bila diperlukan. Kebanyakan keadaan gawat dengan tidak ada etiologi membutuhkan ini.
    • Lakukan pemeriksaan neurologik untuk menentukan ada tidaknya refleks batang otak dan mencari tanda fokal
    • Jika ada tanda fokal : kerusakan struktural
    • Jika tidak ada tanda fokal : kerusakan diffuse



    Jika dicurigai adanya lesi struktural, lakukan noncontrast head CT.
    Jika dicurigai adanya lesi diffuse, CT scan kepala digunakan untuk melihat adanya edem serebral, tanda dari kerusakan iskemik hipoksik global, lesi bilateral yang menyerupai proses diffuse.
    CT scan harus didahului sebelum dilakukan LP. Untuk mencegah herniasi otak jika terdapat massa intracranial.
    EEG dilakukan untuk melihat seberapa dalam coma dan dapat mencari diagnosisnya.

    Pengobatan pada pasien dengan penurunan kesadaran dilakukan dengan koreksi etiologi.
    Jika terdapat peningkatan tekanan intrakranial, segera lakukan reposisi kepala (naikkan 30 derajad, hiperventilasi, dan berikan diuretik osmotik mannitol).
    Jika tekanan intrakranial rendah tetapi masih terdapat kegawatan neurologik, curiga adanya herniasi otak .
    Prognosis tergantung dari etiologi dan umur pasien